Sebagai seorang ayah dari seorang anak perempuan yang cantik dan lucu, tidak ada sehari pun terlepas untuk memikirkan bagaimana saya bisa mengawal perkembangan dari anak saya hingga batas usia mengijinkannya. Kadang terlintas di benak saya, apakah saya sudah melakukan hal yang benar? Apakah saya bisa menjadi ayah yang baik? Apakah peran yang saya jalankan sudah efektif? Apakah anak saya bahagia dengan perlakuan yang saya berikan? Seperti apakah anak saya saat dewasa nanti?
Tentu hal-hal tersebut dan masih banyak hal lainnya sempat terlintas di benak anda sebagai ayah, atau ibu, atau sebagai orang tua. Terutama anda yang baru memiliki satu orang anak. Memang tidak pernah ada sekolah atau pendidikan formal yang bisa dengan tepat memastikan bahwa apa yang kita lakukan akan membuat sang anak menjadi suatu sosok yang sempurna. Namun dari apa yang saya alami dan saya amati, bahwa mendidik anak itu memiliki satu tujuan utama: Menjadikannya Manusia
Guru terbaik dari mendidik dan membesarkan seorang anak adalah pengalaman kita sendiri. Pengalaman yang saya maksud adalah bukan hanya pengalaman untuk mendidik anak, tapi pengalaman menjadi anak itu sendiri. Tentu kita bisa mengingat di masa lalu bagaimana orang tua kita mendidik dan membesarkan kita, dengan berbagai cara, dan saya yakin tidak ada dua orang tua yang membesarkan anaknya dengan cara yang sama persis. Tapi yang saya yakini, orang tua saya merupakan referensi awal bagi diri saya untuk bisa mendidik anak saya dengan baik, sebagaimana pun efektif atau tidak efektif yang telah mereka lakukan. Dalam hal ini, berarti saya dan istri saya memiliki dua referensi awal untuk bisa mendidik anak saya, yaitu orang tua saya, dan mertua saya.
Seperti yang saya ungkapkan di atas, pastinya dalam mendidik saya, orang tua saya mengalami banyak hal yang menyebabkan apa yang mereka lakukan dalam mendidik saya itu efektif atau tidak efektif. Itulah tugas saya dengan segala pengalaman yang saya alami dan amati, untuk bisa melihat mana saja yang bisa saya ambil dari tindakan-tindakan orang tua saya tersebut dan saya lakukan kepada buah hati saya.
Selain dari orang tua, ada juga orang-orang lain yang kita anggap berada pada posisi senior dari kita yang bisa kita petik petuah atau cara mereka dalam mendidik dan membesarkan anak mereka. Sebut saja guru kita. Selama kita bersekolah, pasti kita bisa melihat siapa-siapa saja yang berjasa dalam membuat kita menjadi diri kita saat ini. Itulah yang kita lihat pada guru kita, baik bagaimana cara mereka mendidik, atau bagaimana mereka menanamkan ilmu kepada kita. Tentu ada satu-dua guru yang pada saat itu kita anggap sebagai guru idola, dan ingin rasanya kalau jadi orang tua nanti, bisa mendidik anak seperti guru tersebut. Karena pada saat itu sebagai anak-anak, saya berpikir bahwa guru adalah orang yang paling berkompeten dalam mendidik anak.
Sumber senior lain yang bisa kita jadikan referensi adalah atasan dalam bekerja, atau orang-orang senior yang kita idolakan, seperti atasan kita, atau om-tante kita yang telah mendidik dan membesarkan sepupu kita. Sering atasan saya sharing atau curhat mengenai bagaimana dia mendidik anaknya, bagaimana kesulitannya saat anaknya bermasalah dengan sekolah, bagaimana bahagianya saat anaknya mendapat prestasi, dan lain sebagainya. Begitu pula saudara dekat kita, saat dia mengalami sesuatu, dengan mudah kita bisa mengamati bagaimana om-tante kita menangani atau meresponnya.
Dalam tatanan sederajat, pengetahuan atau pengalaman mengenai membesarkan dan mendidik anak bisa kita dapatkan dari teman-teman, adik-kakak, atau kerabat lainnya. Hal ini tentu merupakan proses sharing yang lebih menarik, karena kesetaraan generasi dan usia, kita bisa saling membagi, menangkap, mendebat, serta men-challenge masing-masing pengalaman dan pendapat.
Hal lain yang sering saya lakukan adalah, mengamati anak-anak secara langsung. Mungkin kita tidak mengenal siapa orang tua mereka, namun kalau sedang berada di Playground menemani anak saya tercinta, saya sering melihat anak-anak lainnya, apa yang mereka lakukan, bagaimana respon mereka terhadap hal-hal tertentu, bagaimana mereka memperlakukan orang lain, dan bagaimana tanggapan atau dorongan orang tua mereka dalam menyikapi perilaku mereka, baik yang baik atau yang kurang baik.
Kadangkala sebagai orang tua, saya merasa menjadi orang yang paling tahu tentang anak saya, dan sulit menerima pendapat orang tentang anak saya, atau sulit menerima anjuran orang lain dalam mendidik dan membesarkan anak saya. Hal ini ada baiknya dan ada buruknya. Baiknya adalah bahwa memang perlu bagi setiap orang tua memiliki prinsip dalam mendidik anak-anaknya, itu merupakan hak mutlak bagi orang tua. Tapi buruknya adalah kita tidak meng-eksplorasi kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menjadi cara yang lebih efektif untuk mendidik dan membesarkan anak.
Banyak sumber yang kita bisa dapatkan untuk mendukung kita dalam mendidik dan membesarkan anak. Namun yang paling penting adalah, anda tahu dengan pasti, anak seperti apa yang ingin anda bangun, sehingga anda bisa dengan bijak memilah sumber-sumber informasi yang meng-klaim sebagai sumber terpercaya, teruji, didukung dengan riset ilmiah, berdasarkan pengalaman, dan lain sebagainya. Ingatlah bahwa tiap individu memiliki keunikan masing-masing, sehingga tidak bisa sepenuhnya mendapatkan cara pendidikan dan pengembangan yang sama.
Blog ini saya ciptakan untuk berbagi, bukan menggurui, mengenai hal-hal yang saya alami dalam perjalanan saya dan istri mendidik dan membesarkan putri kami tercinta. Begitu pula sharing mengenai informasi-informasi berguna dari seluruh dunia yang saya anggap dapat dipraktikan oleh para orang tua yang saya kenal maupun tidak kenal yang kadang kala mengunjungi blog saya ini.
Semoga bermanfaat.
Skema Sumber Informasi

No comments:
Post a Comment