Saturday, November 23, 2013

[Artikel] Kesiapan Anak Memasuki Taman Kanak-Kanak

TK Memerlukan Rencana Fleksibel untuk Guru 

OLEH SCOTT WILSON 22 AGUSTUS 2013 

Terjemahan dari link berikut: 
http://www.urbanchildinstitute.org/articles/features/kindergarten-requires-flexible-plans-for-teachers 

Anak-anak berteman dengan semangat, orang tua mengatur jadwal penjemputan, murid yang lebih tua memperkenalkan adiknya kepada mantan gurunya: ini saatnya pendaftaran TK.

Setiap tahun mendekati akhir juli, orang tua datang ke sekolah baru anak mereka untuk mendaftarkan mereka pada tahun sekolah yang akan datang dan untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertemu dengan guru baru mereka. Dan dalam tiga tahun terakhir ini, anggota dari kelompok kebijakan dari Urban Child Institute menyaksikan kegembiraan ini di sana.

“Kami menyukainya karena merupakan kesempatan bagi kamui untuk turun dari menara gading dan berada di tengah kegiatan.” Kata Pete Albrecht. “Ini adalah sajian besar bagi kami.”

Kesiapan Masuk TK adalah Topik yang Luas 

Selain membantu para guru dengan tugas-tugas mereka di hari yang sibuk ini, membantu membuat salinan atau menerjemahkan bagi para orang tua, anggota UCI di sana untuk melakukan penelitian pada topik “kesiapan memasuki tk.” Istilah ini, walaupun bisa memiliki arti yang berbeda bagi orang-orang, adalah termassuk beberapa keterampilan utama yang harus dimiliki oleh anak-anak yang akan masuk ke TK termasuk bahasa; kognitif, seperti kemampuan untuk menyusun barang dari yang paling berat hingga yang paling ringan; kendali-diri, termasuk kemampuan untuk duduk tenang dalam jangka waktu tertentu atau menyelesaikan masalah tanpa menggigit atau memukul; dan percaya diri – kemauan untuk menelusuri hal di luar apa yang sudah dikenalnya.

Dengan mengikutkan survey pada paket pendaftaran orang tua, tim UCI mampu mengumpulkan informasi mengenai bagaimana variabel tertentu mempengaruhi kesiapan seorang anak. Sementara semua itu terkait dengan pembelajaran usia dini, pertanyaannya baru-baru ini dipererat kepada interaksi orang tua/anak.

“Siap” Dimulai Jauh Sebelum Hari Pendaftaran 

“Literatur menyarankan bahwa ada banyak kategori aktifitas yang dapat dilakukan bersama orang tua yang membantu anak-anak,” menurut Dr. Doug Imig. “Salah satunya harus terkait dengan pendidikan usia dini dan lainnya dengan membangun rutinitas yang sehat. Jadi, survey tahun ini dipandang untuk melihat apakah nilai kesiapan yang lebih kuat diantara anak-anak merupakan fungsi dari keterlibatan keluarga dalam pendidikan usia dini atau fungsi untuk membangun rutinitas transisi yang sehat.”

Pertanyaan ini mencakup apakah anak-anak memiliki waktu tertentu untuk aktifitas tertentu, seperti tidur, menggosok gigi, makan, dan bermain. Setelah hasilnya, dengan alasan pribadi, menghapus identitas dari lembar survey oleh sekolah Shelby County, mereka dikirimkan ke UCI. Di sana mereka membandingkan hasilnya dengan indikasi kesiapan TK – suatu ujian yang diikuti oleh semua murid yang akan masuk TK – untuk menentukan keterkaitan apa yang ada antara rutinitas keluarga dan kesiapan masuk TK.

Untuk seorang guru, sebelum dia mengetahui latar belakang keluarga sang anak, sudah jelas sejak awal apakah dia siap untuk masuk TK.

Guru yang Berpengalaman dapat Melihat “Kesiapan” Secara Langsung 

“Seorang anak yang siap masuk TK datang dengan sangat siap pada hari pertama untuk mulai melakukan apa yang kita inginkan di tahun tersebut,” kata salah seorang guru TK bekerja pada distrik sekolah. “Namun beberapa anak datang dan kami sadar bahwa kami perlu menyesuakan apa yang kami telah rencanakan.”

Saat TK hanyalah langkah pertama dari proses pendidikan formal, penelitian terus mengindikasikan pentingnya tahun-tahun setelahnya, sebagaimana juga konsekuensi negative dari memulai tanpa persiapan. Untungnya, ada langkah-langkah yang dapat diambil oleh para orang tua untuk mempersiapkannya.

Orang Tua Memainkan Peran Penting Sejak Awal 

“Orang tua adalah guru pertama bagi seorang anak dan ada banyak hal dasar yang dapat mereka lakukan untuk membantu anaknya secara dramatis – seperti hanya berbicara, membacakan, atau berinteraksi dengannya,” kata Pete. “Apa yang kami sarankan, khususnya dengan penelitian kesiapan masuk TK, adalah bahwa ada cara-cara murah – pada dasarnya gratis – untuk meningkatkan kehidupan orang.”

Diluar dari interaksi yang tampaknya sederhana tersebut, dampaknya sangat jelas.

“Anak-anak sangatlah siap – menyerap hal-hal dengan sangat cepat dan sangat sesuai dengan apa yang kami lakukan di sekolah – sepertinya mereka telah mendapat paparan terhadap banyak hal di rumah,” menurut guru TK yang sama. “Jika mereka terkembang secara kognitif, anda dapat katakana bahwa mereka telah terpapar dengan banyak orang yang berbicara padanya, banyak kosa kata, dan kesempatan untuk bermain dan mengeksplorasi saat mereka kecil, sebelum TK. Secara menyeluruh, pengalaman ini membuat mereka lebih menerima terhadap apa pun yang kita bicarakan di sekolah.”

Untuk saat ini, walaupun banyak yang masih perlu dipelajari tentang hal itu, jelas bahwa memasuki TK dengan siap sangatlah penting bagi anak, dan bahwa langkah-langkah yang dapat diambil oleh orang tua untuk membantu sangatlah mendasar, namun memberikan hasil yang baik.

“Saat anak-anak mencapai kesiapan masuk TK untuk berhasil – saat mereka memiliki landasan yang kaya dalam berbahasa, sejumlah keterampilan berpikir kritis yang berkembang, tingkat pengendalian-diri sesuai usianya, dan rasa percaya diri yang bertumbuh, mereka menikmati keuntungan besar,” kata Dr. Imig. “Mereka akan lebih menikmati sekolah, penasaran tentang dunia di sekitar mereka, berteman baik dengan teman sekelas mereka, dan menjadi pembaca usia dini. Anak yang siap masuk TK berada pada jalur menuju sukses.”

Friday, November 22, 2013

Akankah saya menjadi ayah yang baik....?

Di Sabtu yang tenang ini, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk mewujudkan apa yang saya ingin lakukan sejak beberapa bulan yang lalu.

Sebagai seorang ayah dari seorang anak perempuan yang cantik dan lucu, tidak ada sehari pun terlepas untuk memikirkan bagaimana saya bisa mengawal perkembangan dari anak saya hingga batas usia mengijinkannya. Kadang terlintas di benak saya, apakah saya sudah melakukan hal yang benar? Apakah saya bisa menjadi ayah yang baik? Apakah peran yang saya jalankan sudah efektif? Apakah anak saya bahagia dengan perlakuan yang saya berikan? Seperti apakah anak saya saat dewasa nanti?

Tentu hal-hal tersebut dan masih banyak hal lainnya sempat terlintas di benak anda sebagai ayah, atau ibu, atau sebagai orang tua. Terutama anda yang baru memiliki satu orang anak. Memang tidak pernah ada sekolah atau pendidikan formal yang bisa dengan tepat memastikan bahwa apa yang kita lakukan akan membuat sang anak menjadi suatu sosok yang sempurna. Namun dari apa yang saya alami dan saya amati, bahwa mendidik anak itu memiliki satu tujuan utama: Menjadikannya Manusia

Guru terbaik dari mendidik dan membesarkan seorang anak adalah pengalaman kita sendiri. Pengalaman yang saya maksud adalah bukan hanya pengalaman untuk mendidik anak, tapi pengalaman menjadi anak itu sendiri. Tentu kita bisa mengingat di masa lalu bagaimana orang tua kita mendidik dan membesarkan kita, dengan berbagai cara, dan saya yakin tidak ada dua orang tua yang membesarkan anaknya dengan cara yang sama persis. Tapi yang saya yakini, orang tua saya merupakan referensi awal bagi diri saya untuk bisa mendidik anak saya dengan baik, sebagaimana pun efektif atau tidak efektif yang telah mereka lakukan. Dalam hal ini, berarti saya dan istri saya memiliki dua referensi awal untuk bisa mendidik anak saya, yaitu orang tua saya, dan mertua saya.

Seperti yang saya ungkapkan di atas, pastinya dalam mendidik saya, orang tua saya mengalami banyak hal yang menyebabkan apa yang mereka lakukan dalam mendidik saya itu efektif atau tidak efektif. Itulah tugas saya dengan segala pengalaman yang saya alami dan amati, untuk bisa melihat mana saja yang bisa saya ambil dari tindakan-tindakan orang tua saya tersebut dan saya lakukan kepada buah hati saya.

Selain dari orang tua, ada juga orang-orang lain yang kita anggap berada pada posisi senior dari kita yang bisa kita petik petuah atau cara mereka dalam mendidik dan membesarkan anak mereka. Sebut saja guru kita. Selama kita bersekolah, pasti kita bisa melihat siapa-siapa saja yang berjasa dalam membuat kita menjadi diri kita saat ini. Itulah yang kita lihat pada guru kita, baik bagaimana cara mereka mendidik, atau bagaimana mereka menanamkan ilmu kepada kita. Tentu ada satu-dua guru yang pada saat itu kita anggap sebagai guru idola, dan ingin rasanya kalau jadi orang tua nanti, bisa mendidik anak seperti guru tersebut. Karena pada saat itu sebagai anak-anak, saya berpikir bahwa guru adalah orang yang paling berkompeten dalam mendidik anak.

Sumber senior lain yang bisa kita jadikan referensi adalah atasan dalam bekerja, atau orang-orang senior yang kita idolakan, seperti atasan kita, atau om-tante kita yang telah mendidik dan membesarkan sepupu kita. Sering atasan saya sharing atau curhat mengenai bagaimana dia mendidik anaknya, bagaimana kesulitannya saat anaknya bermasalah dengan sekolah, bagaimana bahagianya saat anaknya mendapat prestasi, dan lain sebagainya. Begitu pula saudara dekat kita, saat dia mengalami sesuatu, dengan mudah kita bisa mengamati bagaimana om-tante kita menangani atau meresponnya.

Dalam tatanan sederajat, pengetahuan atau pengalaman mengenai membesarkan dan mendidik anak bisa kita dapatkan dari teman-teman, adik-kakak, atau kerabat lainnya. Hal ini tentu merupakan proses sharing yang lebih menarik, karena kesetaraan generasi dan usia, kita bisa saling membagi, menangkap, mendebat, serta men-challenge masing-masing pengalaman dan pendapat.

Hal lain yang sering saya lakukan adalah, mengamati anak-anak secara langsung. Mungkin kita tidak mengenal siapa orang tua mereka, namun kalau sedang berada di Playground menemani anak saya tercinta, saya sering melihat anak-anak lainnya, apa yang mereka lakukan, bagaimana respon mereka terhadap hal-hal tertentu, bagaimana mereka memperlakukan orang lain, dan bagaimana tanggapan atau dorongan orang tua mereka dalam menyikapi perilaku mereka, baik yang baik atau yang kurang baik.

Kadangkala sebagai orang tua, saya merasa menjadi orang yang paling tahu tentang anak saya, dan sulit menerima pendapat orang tentang anak saya, atau sulit menerima anjuran orang lain dalam mendidik dan membesarkan anak saya. Hal ini ada baiknya dan ada buruknya. Baiknya adalah bahwa memang perlu bagi setiap orang tua memiliki prinsip dalam mendidik anak-anaknya, itu merupakan hak mutlak bagi orang tua. Tapi buruknya adalah kita tidak meng-eksplorasi kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menjadi cara yang lebih efektif untuk mendidik dan membesarkan anak.

Banyak sumber yang kita bisa dapatkan untuk mendukung kita dalam mendidik dan membesarkan anak. Namun yang paling penting adalah, anda tahu dengan pasti, anak seperti apa yang ingin anda bangun, sehingga anda bisa dengan bijak memilah sumber-sumber informasi yang meng-klaim sebagai sumber terpercaya, teruji, didukung dengan riset ilmiah, berdasarkan pengalaman, dan lain sebagainya. Ingatlah bahwa tiap individu memiliki keunikan masing-masing, sehingga tidak bisa sepenuhnya mendapatkan cara pendidikan dan pengembangan yang sama.

Blog ini saya ciptakan untuk berbagi, bukan menggurui, mengenai hal-hal yang saya alami dalam perjalanan saya dan istri mendidik dan membesarkan putri kami tercinta. Begitu pula sharing mengenai informasi-informasi berguna dari seluruh dunia yang saya anggap dapat dipraktikan oleh para orang tua yang saya kenal maupun tidak kenal yang kadang kala mengunjungi blog saya ini.

Semoga bermanfaat.

Skema Sumber Informasi